70% Kepala Sekolah tidak Kompeten

Departemen Pendidikan Nasional memperkirakan 70 persen dari 250 ribu kepala sekolah di Indonesia tidak kompeten. Berdasarkan ketentuan Departemen, setiap kepala sekolah harus memenuhi lima aspek kompetensi, yaitu kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan. Namun, hampir semua kepala sekolah lemah di bidang kompetensi manajerial dan supervisi. “Padahal dua kompetensi itu merupakan kekuatan kepala sekolah untuk mengelola sekolah dengan baik,” kata Direktur Tenaga Kependidikan Surya Dharma kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Baca lebih lanjut

BOMM SMA Cepiring


Assalamualaikum wr. wb.
Alhamdulillah SMA Cepiring untuk tahun pelajaran 2007/2008 mendapatkan bantuan Operasional Manajemen MUtu (BOMM) yang dalam pelaksanaannya digunakan untuk melengkapi perlengkapan dan perangkat Komputer. Baca lebih lanjut

Get Speedy on the Scholl

Assalamualaikum wr. wb.

Alhamdulillah hari ini speedy sudah masuk ke kabupaten kendal, sehingga akses internet dengan bandwith reltif tinggi sudah dapat dinikmati di kabupaten ini. SMA Cepiring merupakan salah satu sekolah yang mempelopori penggunaan sarana telkom ini dengan pemasangan perdananya. Dengan kecepatan akses 384 kbps agaknya keperluan layanan informasi yang selama ini diberi oleh jardiknas dapat ditingkatkan dengan koneksi baru ini. Baca lebih lanjut

Lomba Perpustakaan se Jawa Tengah

Assalamualaikum wr. wb.
Hasil dari telaah kesiapan beberapa sekolah tentang kesiapan mengikuti lomba perpustakaan, maka SMA Cepiring dengan bermodal “nekat” akhirnya terpilih untuk mewakili kendal dalam lomba tersebut tingkat propinsi.
Berita yang mendadak dari dinas kabupaten cukup mengagetkan pihak sekolah dan dengan “instant” segala penyiapan dilakukan bersama, tidak hanya dari fihak sekolah yang melakukan proses penyiapan tetapi juga dari dinas, perpustakaan daerah hingga rekan-rekan pustakawan se kendal secara bersama-sama “nandangi” gawe ini. Baca lebih lanjut

Pembangunan yo… pembangunan

Assalamualaikum wr. wb.

Keberadaan SMA Cepiring sebagai suatu lembaga pendidikan menengah umum yang telah berdiri sejak tahun 1992 telah menunjukkan perkembangan berarti dengan semakin meningkatnya sarana-prasarana, ketenagaan dan jumlah murid tentunya. Harapan dari perkembangan tersebut tentunya adalah peningkatanan kualitas dan tentunya kuantitas pendididkan yang dapat ditangani oleh SMA Cepiring. Saat ini SMA Cepiring telah berada pada sekolah dengan type B dengan 6 kelas paralel dan jumlah guru sekitar 50 orang (termasuk guru Bantu, kontrak dan GTT). Sarana pendukung pembelajaranpun semakin memadai dengan 18 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan 1 ruang Lab IPA, 1 ruang Lab Komputer, Aula, ruang guru, ruang TU, dsb.
Pada tahun pelajaran 2006/2007 ini SMA Cepiring mendapatkan kepercayaan untuk menambah 1 gedung Laboratorium Biologi dengan dana imbal swadaya sebesar 150 Jt, dengan dana pendamping 50 Juta. Gedung baru lab tersebut telah selesai di bangun.
Melalui dana APBD Kabupaten Kendal diusulkan pula pengadaan peralatan Laboratorium Biologi yang pada minggu kemaren telah terealisasi, walaupun sempat ada permasalahan pengiriman, karena barang yang diterima tidak sama dengan daftar barang yang di serahkan. Tapi alhamdulillah pada sabtu, 2 Desember 2006 kemaren masalah tersebut telah tuntas.
Pertanyaanya adalah :

  1. Benarkan bahwa pengadaan laboratorium Biologi tersebut adalah hal yang memang di butuhkan oleh sekolah?, apakah tidak lebih baik pengadaan tersebut di alihkan kepada pembangunan lain yang lebih bermanfaat dan memang sangat dibutuhkan saat ini, misalnya pembangunan laboratorium bahasa, atau ruang media, atau pengadaan peralatan Laboratorium Komputer, karena saat ini SMA Cepiring masih bekerja sama dengan fihak ketiga dalam penyelenggaraan pengajaran TIK, dimana siswa dianggap sebagai peserta kursus yang notabene terbebani pembayaran kursus yang relatif tidak murah.
  2. Bagaimana transparansi penyaluran bantuan keuangan tersebut, karena dalam pelaksanaan proyek tersebut dana pendampingan adalah dana pinjaman, artinya bukan dana milik Sekolah yang sebenarnya, kemudian bagaimana dengan kualitas hasil rpoyek tersebut. Terdengar khabar bahwa beberapa bagian keungan proyek tersebut ditalangi oleh dana dari komite, memang yang sebenarnya bagaimana sih.
  3. Bolehkah ruang yang sedianya diperuntukkan untuk Laboratorium Biologi tersebut dialihfungsikan sebagai ruang yang lain, misalnya ruang media, mengingat bahwa sudah terdapat ruang lab IPA walaupun frrekuensi penggunaannya sangat tinggi dan saat ini ruang LAB IPA sigabungfungsikan juga sebagai ruang media.