Menunggu Guru Menjadi Gr

guru_gelarJangan keget kalau dalam beberapa tahun ke depan banyak orang dengan gelar anyar. Yakni, “Gr”. Bukan Gusti Raden apalagi gedhe rumangsa (gede rasa). Gr ini adalah gelar profesi anyar yang akan disematkan kepada para guru. Harapannya, tentu menunjukkan bahwa mereka yang bergelar Gr benar-benar seorang guru yang profesional sesuai dengan standar profesi yang diterapkan pemerintah. 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 87 Tahun 2013 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan (PPG) mengatur itu. Pada pasal 14, dikatakan bahwa gelar Gr adalah sebutan profesional lulusan PPG. Gelar itu ditempatkan di belakang nama yang berhak.

Yang anyar pada aturan tersebut sejatinya bukan hanya gelar itu. Yang harus diapresiasi adalah upaya membuat guru sebagai profesi yang tidak main-main. Tidak bisa dengan mudah, lulusan S-1 yangkebetulan diterima bekerja sebagai pengajar begitu saja disebut guru.

Mereka yang berhak menyadang guru itu berarti sudah menempuh pendidikan profesi khusus untuk para guru. S-1 saja -walaupun bergelar sarjana pendidikan- tidak cukup untuk “berpraktik” sebagai guru. Seperti lulusan sarjana kedokteran (SKed) yang masih belum bisa praktik kalau belum menempuh pendidikan profesi. Sarjana kedokteran belum dokter dan belum layak dipanggil “Dok”.

Kalau mau serius -katakanlah mau “mencontek” keprofesionalan dokter-, seabrek PR harus segera digarap. Harus ada lembaga yang terus-menerus mengawasi dan mengakreditasi pada Gr tersebut secara rutin. Sebagaimana para dokter yang terus-menerus meng-update ilmunya. Dengan demikian, tidak ada lagi ceritanya guru-guru yangmengajar dengan metode so yesterday alias jadul.

Tidak boleh lagi ada guru yang melakukan “malapraktik” dengan mengatrol nilai para siswanya. Mereka yang melakukan itu harus benar-benar dicopot dan tidak boleh lagi mengajar dan mneyandang gela Gr. Pelanggaran berat harus mendapat konsekuensi berat pula. Tidak cukup, guru yang melanggar “hanya” dimutasi ke tempat mengajar yang lain.

KOnsekuensi sebuha gelar memang berat. Sama seperti gelar haji yang seharusnya tidak boleh lagi korupsi, misalnya. Pertanyaannya, siapkah para guru benar-benar menjadi Gr nanti?

Dan pada saat peraturan itu dilaksanakan, dokter bukan lagi satu-satunya profesi yang bisa dijadikan nama panggilan. Kalau boleh dokter boleh dipanggil “Dok”, siapa tahu para guru nanti juga mau dipanggil “Gur”.

Sumber : jati diri, JP, 8/2,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: