Guru adalah Agen Perubahan

Hari Guru Nasional atau dikenal dengan sebutan lain Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), diperingati dengan bentuk kegiatan upacara: setiap 25 November.

???????????????????????????????Senin (25/11) pagi (lebih tepatnya pagi tadi), SMA 1 Cepiring melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Guru Nasional atau HUT PGRI ke 68. Drs. Junaidi Rosid yang mendapat tugas bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan tiga hal mendasar berkaitan dengan peringatan hari guru tersebut.

Pertama. Berbicara tentang pendidikan berarti pula membicarakan tentang guru (salah satu komponen pendidikan di sekolah selain siswa). Dalam pembinaannya, beliau mencontohkan sikap Jepang dalam dunia pendidikan pada masa perang dunia II. Pada 1945, Amerika Serikat atas perintah Presiden Harry S. Truman melancarkan serangan nuklir (menurut catatan sejarah merupakan satu-satunya serangan nuklir yang pernah terjadi) terhadap kekaisaran Jepang, tepatnya kota Hirosima dan Nagasaki. Secara berturut keduanya berlangsung pada 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang luluh lantak. Hancur. Dari kejadian tersebut sikap pemerintah Jepang yang pertama: “Berapa Jumlah guru yang masih hidup? Berapa siswa yang masih tersisa?”. Menakjubkan. Bagi mereka pendidikan paling utama.

Kedua. Pada 1969 sejarah mencatat, USA meluncurkan pesawat luar angkasa pertama, Apolo II (meski sempat muncul kontroversi –perang dingin USA dengan Uni Sovyet- yang belum teruji benar atau salah_red) yang diawaki astronot yang melegenda Neil Amstrong bersama awak lainnya Edwin Aldrin dan Michael Collin. Juga karena mereka memiliki ilmu pengetahuan: pendidikan.

Ketiga. Guru adalah agen of change. Agen perubahan.

“Ada peribahasa menyatakan, Guru yang baik belum tentu menghasilkan produk (murid-red) yang baik, tapi murid yang baik pasti dihasilkan oleh guru yang baik (berkompetensi di bidangnya-red)” ujar guru pengampu Bahasa Inggris tersebut yang disambut tepuk tangan meriah peserta upacara. Selain itu, lanjut guru berkumis tebal dan berbadan agak tambun tersebut, salah satu keberhasilan atau kegagalan seorang siswa dalam menangkap atau memahami materi dari seorang guru adalah dari persepsinya. Persepsi siswa terhadap guru. Ketika siswa memunculkan persepsi baik terhadap seorang guru, sebenarnya dia (siswa) telah memperoleh 50% keberhasilan. Namun sebaliknya, ketika persepsi buruk yang muncul maka 50% kegagalan telah ditunjukkan oleh siswa itu sendiri. “Ketika persepsi buruk (terhadap guru) yang muncul maka sebenarnya dia (siswa) telah menggali kuburnya sendiri (menuju kepada kegagalan)” sambung pria kelahiran Kendal yang kini tinggal di kota Atlas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: