Mengawali Pemberlakuan “Komunikasi Basa Jawa Krama Inggil” di SMA 1 Cepiring

Dadi manungsa kuwi sing paling utama, aja sok ngendel-endelake samubarang kaluwihane. Apa maneh mamerake kasugihan lan kapinterane. Yen anggone ngongasake dhiri mau mung winates ing lathi tanpa bukti, dhonge pakarti kaya mangkono iku yo bakal ngengon awake dadi sawijining manungsa kang ora aji. Luwih prayoga turuten kae pralampitane tanduran pari. Pari kang mentes kuwi yo mesthi bakal tumelung, lha..kang ndhongak mracihnani yen pari kuwi kothong tanpa isi.

01(Jadi manusia itu yang paling utama, janganlah suka menonjol-nonjolkan segala macam kelebihannya, apalagi selalu memamerkan kekayaan dan kepandaiannya. Karena perbuatan seperti itu hanya akan membuat dirinya menjadi bahan ejekan orang lain dan dianggap tidak penting. Lebih ikutilah perilaku dari tumbuhan padi. Padi yang makin berisi itu pasti akan semakin merunduk, sedangkan yang masih tegak itu itu justru menandakan bahwa padi tersebut gabuk/mandul atau kosong tanpa isi pada bulir-bulirnya).

Itulah sepenggal kalimat Drs. Hadi Wariyantho yang bertindak sebagai pembina upacara. Dalam pembinaan upacara kemarin (17/10) guru pengampu Bimbingan dan Konseling (BK) ini menyampakian dengan memakai Bahasa Jawa, lebih tepatnya Bahasa Kromo, yang menjadikan upacara terasa lebih berbeda. Upacara yang dilaksanakan setiap tanggal 17 di setiap bulannya ini bertepatan dengan hari Kamis, hari dimana seluruh instansi dihimbau untuk menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan keseharinnya –selama jam dinas– dan dalam lingkungan sekolah sendiri Bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa pengantar pada setiap pelajaran.

Lanjut beliau, bahwa penggunaan bahasa pengantar –di sekolah– tersebut adalah sesuai surat edaran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal. Hal ini dipertegas oleh Waka Kurikulm Drs. Winarno saat dikonfirmasi oleh tim redaksi. “Inggih (pancen) leres. Wonten serat edaranipun saking Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal  No. 434/6649/Dispendik tertanggal 9 Oktober 2013, yen saben dinten Kemis, basa pengantar saben pelajaran disuwun nganggo basa Jawa, salajengipun balik maneh ing basa sing biasa dienggo (bahasa Indonesia atau Inggris-red),” terang guru pengampu Bahasa Indonesia tersebut sebelum menuju kelas untuk mengajar.

Masih menurut Pak Hadi –sapaan akrab Drs. Hadi Wariyantho– esensi dari “menghidupkan kembali” Bahasa Jawa ini tidak lepas dari menurunnya tingkat kesantunan para siswa di lingkungan sekolah, terlebih kepada guru. “Unggah-ungguh anak-anak (siswa) sekarang mulai berkurang, ini sungguh memprihatinkan,” imbuh beliau. Dan ini dimaknai mengangkat kembali kurkulum Bahasa Jawa yang sempat dimunculkan beberapa tahun lalu namun dihapus kembali.

Semoga terlaksana dengan baik, “Titikane trahing ngawirya, solah tingkah kang tata,” ciri keturunan orang yang mulia adalah tingkah laku yang tertib (sopan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: