Penumpang Gelap Sertifikasi Guru

nuhSertifikasi merupakan salah satu strategi dalam memperbaiki mutu pendidikan dengan meningkatkan profesionalisme guru. Tidak mungkin membenahi pendidikan tanpa memiliki guru profesional. Sebab, hanya di tangan guru profesionallah perkembangan intelektual, sikap, dan moral anak didik dijamin.

Bagi guru, sertifikasi bisa mengangkat citra dan menempatkan mereka pada posisi yang terhormat. Baik di mata guru sendiri, di mata anak didik, di mata masyarakat, bahkan di mata dunia. Sayangnya, di tengah upaya mulia dan luhur itu ada oknum yang menjadi penumpang gelap.

Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Unesa dan LPTK Unepa Surabaya menemukan calon peserta pendidikan dan latihan progesi guru (PLPG) yang menggunakan ijazah S-1 palsu. Sejauh ini, delapan kasus terungkap. Mereka menghalalkan segala cara demi mengejar tunjangan profesi pendidik (TPP). Sebagaian bahkan berstatus pegawai negeri sipil (PNS).

Pemalsuan ijazah merupakan tindak kriminal. Mendikbud Moh. Nuh menyebut pemalsuan ijazah untuk sertifikasi tersebut sebagai kejahatan besar dan luar biasa. Karena itu, temuan ijazah palsu tersebut harus diusut hingga ke sumbernya. Tentu tidak adil jika oknum guru yang tidak memenuhi kualifikasi akhirnya bisa mendapat reward setara dengan guru yang telah mengabdi sepenuh jiwa dan raga.

Syarat dan tahap proses sertifikasi itu sudah sangat jelas. LPTK bertanggung jawab menghasilkan guru yang unggul dalam segenap kompetensinya. Baik potensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial.

Jika itu tercapai, masyarakat segenap hati percaya, mendukung, dan membela guru sbagai kekuatan pendidikan. Namun, jika itu tidak tercapai, sertifikasi hanya menyumbangkan data administrasi kepegawaian. Jaminan peningkatan mutu pendidikan tidak terwujud.

Guru yang tidak memenuhi syarat kompetensi tetapi lolos sertifikasi bisa menjadi ganjalan peningkatan mutu kegiatan belajar-mengajar. Anak-anak kita telah berteman karib dengan sumber-sumber belajar di dunia maya. Gaya belajar mereka telah melangkah pada sistem belajar-mengajar berbasis internet (e-learning). Mereka butuh profil guru yang mampu mengimbangi sebagai fasilitator sekaligus narasumber.

Bayangkan jika mereka dilayani seorang oknum pengajar yang hanya bermodal ijazah S-1 palsu. Model pembelajaran masa depan bisa jadi memadukan teknologi informasi dengan pembangunan karakter. Seorang oknum guru pemalsu ijazah yang secara akademis tidak berkompeten serta secara karakter tidak bisa menjadi teladan ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga.

Dari tahun ke tahun, pemerintah menyediakan anggaran puluhan triliun rupiah untuk TPP. Pada 2013, anggaran TPP mencapai Rp 43 triliun dan pada 2014 akan naik menjadi Rp 60,5 triliun. Sungguh sayang kalau anggaran sebesar itu sampai dinikmati orang yang salah.

Kalau disepakati bahwa pendidikan adalah investasi bangsa, anggaran puluhan triliun rupiah tersebut tentu diharapkan mempersembahkan hasil human capital berupa generasi muda yang unggul. Merekalah “generasi emas”, aset penting, saat Indonesia merayakan HUT ke-100 Kemerdekaan pada 2045.

Sumber: Jawa Pos (4/9) “jati diri”

Satu Tanggapan

  1. penumpang gelap masuknya dari belakang ya pak ? semga bangsa indonesia semakin sadar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: