Hari Pendidikan Nasional: sang guru sebagai penantang

Selamat Hari Pendidikan Nasional

hardiknasUjian Nasional masih mebuat deg-degan ketika kita mengingat Hari Pendidikan Nasional, hari ini. Terlepas dari pro-kontra ujian nasional, yang jelas kini masih banyak hal yang menjadi titik kegelisahan dalam mengembangkan pendidikan nasional kita. Pertama, sudahkah pendidikan nasional terutama di tingkat dasar dan menengah mampu menanamkan karakter: disiplin, jujur, dan kreatif?. Ujian nasional masih didominasi mata pelajaran eksak.

Sebaiknya, pendidikan agama dan pancasila -misalnya- masih terbatas pada pendidikan “tentang” agama serta Pancasila dan belum membawa siswa religiusitas yang sejati. Korupsi dan ketidakjujuran adalah biang keladi kerusakan bangsa dan ironisnya hal itu disumbang kaum berpendidikan. Mestinya pelajran “sekuler” lainnya seperti fisika, kimia, dan matematika juga dapat menjadi “media” untuk menanamkan karakter tersebut.

Kedua, sudahkah di dunia persekolahan pada umumnya murid merasa sedang mencari sesuatu yang hakiki?. Pendidikan hanya sebata dipahami sebagai peristiwa pengajaran. Itu pun hanya yang paling dangkal. Kebanyakan guru masih bermental mengajar, sehingga jarang tampil sebagai fasilitator atau motivator, apalagi sebagai penggugah atau penantang yanga membuat murid gelisah, sehingga mereka tertantang untuk lebih rajin belajar agar kelak lebih dahsyat dari gurunya.

Akhirnya, pendidikan dituding sebagian orang masih mereduksi kreativitas dan daya juang siswa karena dibatasi pagar-pagar birokrasi, sedangkan di daerah kadang pendidikan di bawah bayang-bayang politik berkuasanya kepala daerah.

Mengapa hal itu saya tekankan? Sederhana saja. Usia SD, SMP, dan SMA adalah usia yang paling “kritis” untuk “ditanami: religiusitas. Kehancuran dan kemunduran negeri ini bermuara dari kealpaan pemimpin yang benar-benar menempatkan hatinya kepada Tuhan.

Dengan demikian, anak usia remaja tersebut mesti menjadi bidang garapan yang serius untuk disiapkan menjadi pemimpin yang paham. Tidak saja paham betul tentang negara, ilmu pengetahuan, dan teknologi, namun, juga paham dan tahu “dari mana asal saya ini”, :unutk apa hidup ini?”, “mau ke mana setelah mati?” dan seterusnya. SIngkatnya, pelajaran di sekolah -apaun namanya- harus sanggup menanamkan tiga hal sekaligus. Yakni, keterampilan hidup, nilai-nilai hidup dan pandangan hidup, serta religiusitas.

Ilmu dan teknologi hanya know how atau keterampilan teknis dan itu belum punya tujuan, baru sebuah potensi. Adalah amat membahayakan jika menyerahkan kekuasaan yang besar ini kepada yang tidak mengetahui cara menerapkannya. Know how adalah kalimat belum selesai dan belum merupakan sebuah kebudayaan. Sains tidak dapat melahirkan ide untuk hidup. Koestler dalam Act of Creation menyatakan, “untuk memperoleh kenikmatan dari seni penemuan (ilmiah) sebagaimana seni lainnya, para (maha)siswa harus menghayati proses kreatif”.

Ketiga, sudahkah pemerintah mempersiapkan guru yang komplet? Guru yang tidak saja ahli di bidang mata pelajran fak-nya, namun juga guru yang sanggup menjadi mediator kebudayaan (unggu) bangsa. Berubahnya IKIP menjadi universitas mneyisakan permasalahan. Yakni, absennya dosen para calon guru yanbg ngeloni penelitian dan pengembangan “ilmu guru”, “ilmu keguruan”, dan “ilmu kependidikan”. KAlau dunia persekolahan hanya diartikan dunia transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, tampaknya, hal itu tidak bermasalah. Namun, jika guru diharapkan juga sebagai “agen” kebudayaan, kebijakan tersebut harus dijernihkan.

Guru sebagai agen kebudayaan hanya dapat dihasilkan dari lembaga yang benar-benar digarap serius. Guru sebagai agen kebudayaan dapat diwujudkan jika guru tersebut memiliki kemampuan untuk menggunakan mata pelajaran yang dia kuasai sebagai “medium” untuk menanamkan (setidaknya) tiga hal sekaligus. Yakni, nilai-nilai hidup, pandangan hidup, dan keterampilan hidup.

Sudahkah lembaga-lembaga penghasil guru sibuk meneliti dan mengembangkan ilmu kependidikan khas (kebudayaan) Indonesia, khususnya yang dapat menjawab bukan saja tantangan lokal, nasional, bahkan global?

Apakah ilmu-ilmu yang (dulu) disebut ilmu pedagogis. didaktik, metodik, dan seterusnya masih ditekuni lembaga penghasil guru? Padahal ilmu-ilmu itu -terlepas dari apapun namanya kini- amat penting diteliti dan terus dikembangkan. Ilmu pedagogis adalah ilmu cara membesarkan dan mengasuh anak, Ilmu didaktik adalah ilmu tentang hal ihwal membuat persiapan mengajar, dan ilmu metodik adalah ilmu tentang hal ihwal tentang mengajarkan ilmu-ilmu tertentu seperti kesenian, menyanyi, menggambar, atau pekerjaan tangan.

Guru sebagai agen kebudayaan juga hanya dapat diwujudkan jika para calon guru diajari pula hal-hal tentang pengetahuan umum yang memadai. Kebudayaan adalah persoalan yang mahakompleks. Guru fisik atau IPA juga mesti paham soal-soal humaniora. Demikian pula sebaliknya.

Guru sebagai agen kebudayaan juga harus banyak dibekali mata pelajaran geografi, kewilayahan, serta bahasa asing. Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini, yang terdiri atas ribuan pulau, adat, bahasa, dan suku, tidak dipahami para guru mat pelajaran apa saja?

Bagaimana mungkin para guru akan menjadi agen kebudayaan jika mereka juga tidak menguasai ilmu kependidikan yang khas pula? Sampai seberapa jauh para dosen universitas eks IKIP sanggup mengembangkan psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan, dan semacamnya, selain administrasi pendidikan dan kurikulum?

Sumber: JP, (2/5), ditulis oleh Saratri Wolonoyudho, dosen Unnes,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: