Perbudakan Bahasa

KNOWLEDGE AND SKILLS ARE TOOLS, THE WORKMAN IS CHARACTER.
“Pengetahuan dan keterampilan adalah alat, yang menentukan sukses adalah tabiat”

Ada seorang teman, yang menurut penilaiannya sendiri, bahasa asingnya sangat bagus. Dia menasehati teman-temannya untuk mengikuti lagaknya: kalau mempergunakan bahasa asing, tirulah penutur aslinya dengan baik.

Maka, kalau dia bercakap dalam bahasa asing, mulutnya dipelintir-pelintir sedemikian rupa, matanya dikedip-kedipkan, dan tangannya diputar ke sana-kemari, karena, kata dia, demikian inilah penutur asli berbicara.

Terceritalah, pada suatu ketika, teman ini beserta beberapa teman lain mendapat undangan untuk ke luar negeri. Begitu mereka tiba di luar negeri, teman yang menurut penilaiannya sendiri bahasa asingnya sangat bagus ini dengan lagak bangga berbicara cas-cis-cus. Dia sangat terampil sekali dalam menyapa: “Halo, selamat pagi, apa kabar?” “Wah, cuaca sangat menyenangkan, ya?” “Anda tinggal di kota ini sudah berapa tahun?” dan demikianlah seterusnya.

 Teman-temannya tentu saja kagum. Tapi begitu mereka masuk ke toko, teman yang menurut penilaiannya sendiri bahasa asingnya sangat bagus ini tampak kebingung-bingungan. Justru teman-temannya yang merasa bahasa asingnya tidak baik bisa berkomunikasi dengan orang-orang di toko meskipun kadang-kadang harus ditambah dengan bahasa tubuh dan kalau perlu dengan bahasa Tarzan.

Itu peristiwa di toko, apalagi ketika tiba saatnya ketika mereka harus menghadiri seminar dan masing-masing peserta diminta dengan sangat untuk menyumbangkan pikiran-pikirannya. Pada waktu memasuki ruang sidang, teman ini memang bisa berbicara dengan lancar. Dan, yang ia bicarakan itu juga: “Halo, selamat pagi, apa kabar?” “Wah, saya senang sekali karena cuaca hari ini sangat bagus.” “Halo, kenalkan, nama saya blablabla..” Tidak heran manakala beberapa orang tampak kagum.

Tetapi, begitu seminar dimulai dan penyajian makalah disambung acara diskusi berlangsung, teman ini tampak bisu, tapi tampak mampu mengikuti semua perbicangan dengan baik. Ini terbukti dari gerak kepalanya, yaitu mengangguk-angguk dan tersenyum-senyum. Maka, teman yang menurut penilaiannya sendiri bahasa asingnya sangat bagus ini pun mulai pagi sampai sore tampak tampak seperti orang bisu, tapi pandai karena dia tidak pernah berbicara, tapi mengangguk-angguk dan tersenyum-senyum. Pada waktu rehat minum kopi dan makan siang, sementara itu dia berbicara itu lagi: “Wah, seminar ini betul-betul bagus.”

Begitu ada seseorang mendatanginya dan bertanya: “Apakah Anda yakin gagasan pembicara tadi dapat diterapkan?” Teman ini menjawab: “Tentu saja bisa, gagasan dia kan sangat bagus.” Dan, ketika orang itu bertanya: “Apa alasan Anda bahwa gagasan-gagasan itu bisa diterapkan?” Teman ini kembali menjadi bisu.

Sementara itu, teman-temannya yang bahasa asingnya biasa-biasa saja, dan pada waktu berbicara tidak memelintir-melintir mulutnya itu, sama sekali tidak bisu. Mereka bisa berargumentasi meskipun kadang-kadang disisipi dengan bahasa tubuh dan kalau perlu dengan bahasa Tarzan.

Ingat, peristiwa ini benar-benar terjadi dan bukan sekadar bikin-bikinan. Analogi peristiwa ini tampak ketika beberapa mahasiswa dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Mereka yang bahasa asingnya biasa-biasa saja ternyata lebih berhasil daripada mereka yang dengan mudahnya cas cis cus dalam bahasa asing, tapi tanpa disertai gagasan apa pun. Cas cis cus mereka, ibaratnya, tidak lain adalah semacam pepesan kosong.

Mengapa? Ternyata, mereka yang berhasil itu tidak mau diperbudak oleh bahasa. Mereka mempergunakan bahasa hanya sebagai alat untuk menyampaikan gagasan mereka dan menyerap gagasan orang lain. Karena mereka menganggap bahasa hanyalah alat, mereka pun terbiasa bergaul dengan bacaan-bacaan yang berisi, bukan sekadar membaca kata-kata indah yang lebih merupakan basa-basi daripada isi. Mereka terbiasa membaca majalah Newsweek da Time, atau Le Figaro dan Le Soleil, dan semacamnya.

Pada waktu belajar bahasa Inggris, mereka juga tidak belajar “How are you? Fine, thank you” yang bagi mereka kurang menarik, tapi belajar ungkapan-ungkapan yang mengandung makna, misalnya, “a man withaout a wife is like a life without strive,” yaitu “seorang laki-laki tanpa istri ibaratnya seperti hidup tanpa perjuangan.” Mereka juga tahu, dan bahkan kadang-kadang hafal, ungkapan-ungkapan sastrawan, seperti ungkapan Shakespeare dalam drama Henry VI, yaitu “the first thing we should do is kill all the lawyers,” dan ungkapan Hemingway dalam novel The Old Man adn the Sea, yaitu “Man is not made for defeated. A man can be destroyed but not defeated.”

Dalam menghadapai pengacara-pengacara buas, rakus, dan membela kejahatan dengan mengorbankan kebenaran dan keadilan, berkatalah Shakespeare dalam tokoh dramanya, “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah bunuh semua pengacara itu.” Dan, dalam menghadapi kebuasan kehidupan, kata Hemingway melalui tokohnya, “Manusia tidak ditakdirkan untuk dikalahkan. Manusia dapat dihancurkan tetapi tidak dikalahkan.” Semua ungkapan itu penuh makna dan itulah yang mereka pelajari.

Mereka unggul karena mereka mampu memperbudak bahasa. Sebaliknya, teman yang menurut penilainnya sendiri bahasa asingnya bagus itu bukan memperbudak bahasa, tapi diperbudak oleh bahasa.

Kalau kita lacak sebab-musababnya, kita akan menemukan gagasan Ferdinand Saussure dalam kalimat: “What is natural to human kind is not oral speech but the faculty of constructing a language, i.e. a sysem of distinct ideas” (Hawkes. Structuralism and Semiotics, 2003). Letak keistimewaan manusia bukan pada kecakapan berbicara, tapi pada kemampuannya untuk mengonstruksi bahasa karena bahasa adalah alat untuk mengungkapkan gagasan dan menangkap gagasan.

Bahasa, memang, mempunyai dua komponen, yaitu language, yaitu bahasa, dan parole, yaitu cara seseorang mempergunakan bahasa. Menguasai langue berarti menguasai gagasan. Sementar itu, menguasi parole pada hakikatnya sama dengan menguasai puncak gunung es di lautan dan belum tentu menguasai kaki gunung es yang justru fundamental.

Sumber: JP, 12/8/12

ditulis: Budi Darma (budayawan, guru besar univ. negeri surabaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: