Pinter (nganging) Keblinger

Saya tidak tahu pasti mengapa penangkapan 52 joki pada ujian masuk di Fakultas Kedokteran UGM tidak disikapi heboh. Tak seheboh, misalnya, ditemukannya lemak babi dalam kosmetik atau makanan. Lihat saja jika ada kasus lemak babi, misalnya, akan terjadi demo besar-besaran selama berhari-hari. Demikian pula jika ada penjual miras di warung-warung kecil menjelang Ramadhan. Mereka akan diberantas habis-habisan. Sebaliknya, kasus-kasus korupsi, perjokian, atau perusakan lingkungan dan sebagainya disikapi biasa saja, seolah itu tidak berpengaruh. Padahal, semua kasus tersebut  mempengaruhi kehidupan masnusia, kehidupan kita.

Ada beberapa hal yang bisa dibaca dari kasus perjokian itu. Pertama, dunia pendidikan (tinggi) di tanah air sudah berada dalam keadaan darurat alias SOS. Kasus perjokian itu membuktikakn tiadanya hubungan yang linier antara tingkat kecerdasan seseorang dengan tingkat moralitasnya. Justru banyak kasus, semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang, makin ahli pula ia mengorupsi uang rakyat.

Hampir dapat dipastikan 52 joki tersebut adalah orang-orang yang pintar. Sebab, kalau mereka bodoh, mana mungkin bisa mengerjakan soal-soal yang sulit untuk masuk fakultas kedokteran. Pinter nanging keblinger (pintar tapi keblinger/salah jalan). Mereka adalah potret kecil dari sinyalemen Marzuki Alie beberapa waktu lalu bahwa para koruptor atau kecurangan umumnya dimotori oleh mereka yang lulus dari dunia pendidikan tinggi. Artinya, kecerdasan kognitif ataupun IQ tidak lagi dapat dijadikan sebagai simbol kebanggaan.

Celakanya, faktor itulah yang masih dijadikan ukuran di dunia pendidikan kita sejak SD hingga perguruan tinggi. Ujian nasional adalah salah satu contoh hal yang tidak menghargai kecerdasan yang lain. Buktinya, sehebat apa pun nilai mata pelajaran seorang siswa, jika nilai matematikanya di bawah 4 (empat), dia otomatis tidak lulus ujian.

Kasus perjokian tersebut juga menunjukkan belum jelasnya konsep pendidikan karakter yang kini diwacanakan untuk dikembangkan di dunia pendidikan di tanah air. Tudingan itu dapat dibuktikan dari belum jelasnya definisi, bahkan konsep dari karakter tersebut. Sebab, karakter itu hanya kata benda dan dapat disifati dengan berbagai kata sifat dan kata keterangan. Contohnya, orang itu ganteng, sayang karakternya jelek.

Fenomena perjokian juga menunjukkan betapa miskinnya pengetahuan para siswa tentang jenis-jenis lapangan pekerjaan yang dapat dijadikan profesi yang serius. Itu tidak dipahami para siswa sejak tingkat TK. Coba saja iseng-iseng bertanya kepada anak, baik anak TK, SD, SMP hingga SMA. Jika ditanya apa cita-cita mereka, mereka hanya menjawab dengan serius ingin jadi dokter, insinyur, pilot, dan seterusnya.

Padahal banyak profesi yang membutuhkan keahlian di dunia kerja dan menjanjikan masa depan yang baik, misalnya pforesi chef atau juru boga, desainer pakaian, wartawan, seniman, dan koreografer. Bahkan untuk profesi tukang “membaui” di pabrik rokok terkenal pun, tidak sembarangan orang bisa melakukan dan mereka digaji luar biasa.

Miskinnya pengetahuan tentang jenis-jenis pekerjaan itu juga berakibat kurang baik. Siswa sejak TK hingga SMA dalam bercita-cita dan memilih jurusan di universitas selalu saja dihubungkan dengan uang atau materi dan bukan untuk mengembangkan kepribadian, hobi atau keilmuan.

Mengapa ingin jadi dokter, dapat ditebak jawabannya: ya jelas untuk menjadi orang kaya. Sebab, begitulah yang mereka lihat selama ini. Akibatnya, di antara orang-orang yang masuk fakultas kedokteran, misalnya, boleh jadi kebanyakan bukan orang yang menyukai profesi itu, melainkan hanya mencintai hasil dari profesi tersebut, yakni uang dan kekayaan.

Karena itu, banyak di antara mereka adalah orang pintar yang tidak menghayati profesi dokter, melainkan orang pintar yang memanfaatkan profesi dokter untuk memperkaya diri. Maka, mereka berbondong-bondong masuk ke fakultas itu dengan berbagai upaya, termasuk membayar mahal dan curang dengan menggunakan joki. Banyak orang tua yang memaksakan anaknya masuk fakultas  tersebut bukan untuk mendorong anaknya agar dapat menolong banyak orang, melainkan sekedar demi kebanggaan dan menjadi “mesin” pencari uang. Pinter nanging keblinger.

Kasus perjokian itu harus diselesaikan secara tegas dan adil. Tegas dalam hal ini adalah mereka yang berprofesi sebagai joki harus dihukum berat karena telah menipu dan nanti berpotensi mencelakakan masyarakat. Kalau para joki itu berhasil, dapat dibayangkan berapa ratus orang dokter “asli tapi palsu”.  Asli karena secara de jure mereka mendapat ijazah dokter, palsu karena sesungguhnya mereka tidak berhak untuk masuk fakultas itu. Akibatnya nanti berdampak bagi masyarakat pengguna jasa tersebut.

Ada, setidaknya tiga bidang yang tidak boleh dijadikan ladang penghasilan, apalagi “mesin” pengeruk uang, namun hanya boleh menerima imbalan karena hubungan moral atau akhlak. Tiga bidang itu ialah pendidikan (ilmu), agama, dan kesehatan. Jadi, seorang ustad, misalnya, tidak boleh memperdagangkan kepintarannya berdakwah untuk mengeruk uang dengan manajemen ala pabrik. Demikian pula dokter, guru, atau dosen. Mereka menerima imbalan hanya karena terkait dengan masalah akhlak. Honor atau penghasilan hanyalah efek samping dari apa yang mereka lakukan bukan tujuan utama.

Karena itu, baik si joki maupun yang dituntun olehnya (calon mahasiswa kedokteran) harus dihukum berat. Mereka harus di-blacklist untuk masuk ke jurusan mana saja agar menumbuhkan efek jera bagi yang lain. Seperti langkah Rektor UGM Prof. Pratikno mem-blacklist dan mengirim mereka ke Polres Sleman. Bila perlakuan tegas itu berjalan, semoga kelak kita lebih jarang mendengar adanya kasus orang lulus tes karena “naik” joki. Pinter nanging keblinger.

Sumber : Jawa Pos (ed. 18/7/2012)

ditulis oleh: Saratri Wilonoyudho, Dosen UNNES dan anggota dewan riset daerah Jawa Tengah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: