SMA 1 CEPIRING: Esensi Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2012

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Sejatinya jatuh pada 20 Mei. Namun, karena tanggal tersebut bertepatan dengan hari libur, Minggu, seluruh instansi melakukan peringatan melalui upacara pada hari berikutnya, Senin (21/5).

Drs. Hadi Wariyantho

Pergerakan organisasi kepemudaan pertama di Indonesia yang dimotori oleh seorang siswa sekolah kedokteran pada masa kolonial, STOVIA, Sutomo, merupakan tonggak kebangkitan bangsa Indonesia. Bersama rekan-rekannya sesama siswa STOVIA, pria yang punya nama kecil Subroto itu mendirikan sebuah organisasi yang berisikan para pemuda terpelajar, sehingga banyak disebut sebagai organisasi modern karena mengedapankan ilmu pengetahuan dalam landasan berdirinya organisasi tersebut.

Sejatinya, bukan sekedar mengenang dan mengulas bagaimana dan siapa dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini. “Tidak sekedar kita melakukan upacara peringatan dengan mengenang tentang (organisasi) Boedi Oetomo, melainkan bagaimana kita memaknai esensi yang tersirat pada kebangkitan pemuda dalam hal ini adalah pelajar yang merupakan generasi pembangun bangsa (Indonesia)” terang Pak Hadi Wariyantho (Waka Humas) dalam pembinaannya pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Senin (21/5) kemarin. Lebih lanjut, pria asal Magelang ini menghimbau kepada peserta upacara -para siswa- agar memaknai peringatan ini dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan jati diri seorang pelajar, seperti belajar tekun tekun, bersikap santun, tidak ikut-ikutan perkumpulan yang bersifat negatif seperti geng motor dan lain sebagainya.

Pada kesempatan yang lain, Kepala SMA 1 Cepiring, Pak Siswanto, S.Pd, mengajak para pendidik dan tenaga kependidikan -guru dan karyawan- memanfaatkan momen Hari Kebangkitan Bangsa ini dijadikan sebagai tonggak kebangkitan SMA 1 Cepiring. “Semangat kerja yang disertai tanggung jawab kerja menjadi tumpuan utama dalam proses peningkatan kemajuan SMA 1 Cepiring” ujar beliau dengan nada serius. Dalam pertemuan satu jam tersebut, dimanfaatkan pula oleh kepala sekolah sebagai ajang debat terbuka. Dimulai dengan “menyentil” dan menegur guru serta karyawan yang memiliki “catatan khusus” menurut kepala sekolah sehingga diharapkan untuk bisa memperbaiki pada masa berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: