Hal baru dalam UN 2011

Assalamualaikum wr. wb.

Terlepas dari kontroversi tentang keberadaan Ujian Nasional yang masih kuat dalam polemik di berbagai media, baik di media cetak maupun media elektronik, namun keberadaan dari Uji Nasional ini tetap berlangsung dan selalu menimbulkan gejolak. Grade/Batas Nilai yang selalu naik dengan beberapa variasinya hingga yang termunculkan pada UN 2011 ini sangat menarik untuk dicermati bersama. Paling tidak ada 3 hal “baru” yang muncul pada UN 2011, yaitu :

  1. Munculnya komponen Nilai Sekolah (NS) sebagai salah satu komponen penentu kelulusan.
  2. Mata Pelajaran PAI yang menjadi mata pelajaran yang di UASBN-kan.
  3. Munculnya 5 paket soal dan pendistribusiannya yang dilakukan secara “acak”.

Mari kita cermati satu-persatu fenomena tersebut dan implikasinya di lapangan :

  1. Munculnya komponen Nilai Sekolah (NS) sebagai salah satu komponen penentu kelulusan.

Seperti tertuang dalam POS UN 2011 yang menyatakan hal-hal sebagai berikut :

  • Nilai Sekolah/Madrasah (satuan pendidikan) adalah:
    – Gabungan 0,60 nilai Ujian Sekolah dan 0,40 rata-rata nilai rapor Semester
    3,4, dan 5 untuk SMA/MA
    – Gabungan 0,60 nilai Ujian Sekolah dan 0,40 rata-rata nilai rapor Semester
    1,2,3,4, dan 5 untuk SMP/MTs
    – Nilai Kompetensi Kejuruan adalah gabungan 0,70 nilai Ujian Praktek
    Kejuruan + 0,30 nilai Teori Kejuruan, dimana Kriteria Kelulusan Kompetensi
    Kejuruan adalah Minimum 6,0 (catatan: ujian Praktek Kejuruan dilaksanakan
    sebulan sebelum UN dan ujian Teori Kejuruan dilaksanakan sehari sebelum
    ujian Praktek Kejuruan)….(sumber : sosialisasi Ujian Nasional 2011 yang disusun oleh BSNP)

Aturan ini sepertinya adalah sebuah penyikapan dari fenomena bahwa selama ini yang menentukan kelulusan hanyalah hasil dari Ujian Nasional yang hanya di selenggarakan dalam bilangan hari tanpa mempedulikan proses yang telah terjadi selama proses belajar mengajar di sekolah. Nilai yang berasal dari guru dan telah diberikan selama proses kegiatan belajar mengajar seperti tidak artinya tersebut pada perubahan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan berarti dalam menentukan kelulusan.

Beberapa hal yang perlu disikapi terhadap perubahan aturan ini diantaranya adalah :

  1. Tanpa berapriori terhadap kondisi yang ada, namun kenyataan bahwa Ujian Nasional telah menjadi agenda “menakutkan” bagi semua fihak, dari mulai pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, guru orang tua dan tentunya siswa. Dan dalama menyikapi sebuah masalah tentunya ada yang berkecenderungan untuk bertindak positif namun tidak dipungkiri juga ada yang mencari-cari celah untuk “mengakali”nya. Dengan aturan baru ini, dan adanya peluang nilai sekolah sebesar 40%, maka kecenderungan yang muncul adalah untuk memaksimalkan perolehan 40% tersebut, sehingga upaya untuk 60% sisanya dari Ujian nasional menjadi lebih ringan. Apalagi data yang diminta tanpa disertai dengan bukti fisik yang ada seperti copy raport, tetapi hanya data hasil yang dapat dikirimkan dalam bentuk hardcopy maupun softcopy kepada dinas.
  2. Dalam jangka panjang maka sekolah akan menuntut kepada guru untuk meningkatkan KKM. Sepertinya adalah yang baik jika pada sebuah sekolah untuk mata pelajaran memiliki KKM yang tinggi yang berarti komponen penunjang dari intake, daya dukung dan kompleksitas menunjang untuk pencapaian yang tinggi, namun perlu di cermati juga jika itu hanyalah kontrak semu yang bertujuan untuk meningkatkan perolehan Nilai sekolah, maka “keberadaan” kemampuan kompetensi siswa menjadi semakin bias.
  3. Pelaksanaan Ujian Sekolah yang hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan nilai, sedang pada kondisi sebenarnya tidak mengarah ke kompetensi yang sebenarnya di peroleh siswa, walaupun hal ini akan jelas sekali terukur dari rentang perolehan antara nilai yang diperoleh pada  Ujian Sekolah dibanding dengan nilai yang diperoleh pada Ujian Nasional.

2. Munculnya mata Pelajaran Pendidikan Agama sebagai mata pelajaran yang di UASBN-kan

Tahun 2011 ini, mata pelajaran agama (PAI) masuk menjadi mata ujian UASBN (Ujian Berstandar Nasional), atau dibeberapa situs mengatakan “masuk UN” (Ujian Nasional).

Menurut beberapa sumber, UASBN PAI dilaksanakan karena Kementrian Agama ingin memetakan daya serap pelajaran agama Islam di kalangan pelajar. Karena dimaksudkan untuk pemetaan, hasil UASBN PAI tidak mutlak menentukan kelulusan pelajar. Sekolah juga berhak menentukan batas minimal kelulusan UASBN PAI. Selain itu, nilai UASBN PAI juga tidak dimaksudkan untuk keperluan mendaftar sekolah di jenjang lebih tinggi. Hasil UASN PAI ini akan terpisah dari lembar surat keterangan hasil ujian nasional yang biasa digunakan untuk mendaftar sekolah. Baca: kompas.com

Perlunya kompetensi amaliah

Jangan berbangga dulu PAI masuk UASBN.

Bagi beberapa kalangan, terutama guru agama, masuknya PAI menjadi mapel UASBN mungkin sebuah kemajuan. Ya, dari segi kebijakan dan perhatian pemerintah, ini –mungkin- sebuah kemajuan, meski kebijakan itu juga masih kelihatan sangat lunak. Karenanya perlu kita sikapi secara bijak. Sebab sebenarnya ada beberapa persoalan yang justru menjadi inti dalam pembelajaran agama,  yaitu kompetensi amaliyah.

Okelah, PAI masuk UASBN, tapi lihat dulu seperti apa proses pembelajaran agama di madrasah/sekolah kita. Jangan sampai , karena PAI masuk UASBN, kemudian guru agama hanya menjejali materi untuk mengejar target lulus dengan nilai tinggi, tanpa memperhatikan perkembangan pribadi atau akhlak siswa.

Agama itu sebuah amaliyah, bukan sekedar teori. Pengetahuan agama penting, tapi amaliah lebih penting. Ada sebuah kata-kata bijak, bahwa “ilmu tanpa amal, bagai pohon tak berbuah”. Ada juga hadits yang mengatakan “amal tanpa ilmu akan tertolak”. Karenanya harus ada keseimbangan, keselarasan antara ilmu dan amal. Jadi ada kompetensi amaliah yang nyata, tidak sekedar praktik ibadah di madrasah/sekolah.

Apalah artinya anak bisa bacaan dan gerakan sholat, tapi ketika di rumah tidak pernah sholat. Atau misalnya anak dapat menyebutkan contoh minuman yang haram, tapi di luar itu, justru mereka jadi pemabuk. Ini akan sangat ironis, ketika dilihat ternyata nilai aganya bagus.

Nah, kalau pembinaan amaliyah agama terabaikan karena guru agama hanya mengejar target kelulusan, maka justru hal ini bisa membahayakan pendidikan kita. Jangan sampai madrasah/sekolah kita hanya bisa mencetak muslim-muslim KTP.

Siapa yang mengontrol kompetensi amaliah ini? Ya mereka yang paling dekat dengan anak didik.  Guru, orang tua dan lingkungan.

Ini mungkin bisa menjadi bahan renungan dan keprihatinan kita, guru madrasah, atau guru agama (agama apapun) di tengah krisis moral remaja, untuk berupaya agar pembelajaran agama bukan sekedar teori, termasuk teknik penilaiannya.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: