SAJAK BURUNG KONDOR UNTUK KEBANGKITAN NASIONAL 2010

Assalamualaikum wr. wb.

Pagi ini 20 Mei 2010, sejakkemarin siswa-siswi SMA 1 Cepiring sudah mempersiapkan diri untuk menyambut peringatan hari kebangkitan dengan prosesi upacara serta penyerahan piala kebanggaan Juara Umum Popda 2010.

Tadi malam hujan cukup deras dan tanah basah serta tergenang sepertinya akan mengganggu pelaksanaan kegiatan upacara pagi ini, tapi apapun, hari kebangkitan Nasional tahun ini seharusnya memang dapat dijadikan momentum perubahan untuk menjadi lebih baik bagi setiap warga negara, setiap lembaga atau institusi apapun dengan melihat kondisi yang ada sekarang ini.
Ada pionir-pionir perubahan untuk meretas kebangkitan yang memang seharusnya dilakukan, namun pada sisi lain ada juga kekuatan-kekuatan yang mencoba untuk mempertahankan kenyamanan ketidak benaran.
WS Rendra tahun 1973, mencoba membidik kondisi yang ada pada saat itu, yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan kondisi yang ada sekarang ini dengan sajak-nya yang sempat mengantarnya ke sel tahanan pada jaman rezim orde baru dan menjadi puisi wajib mahasiswa di era demontrasi tahun 80-an.
Burung-burung Kondor, sebuah representasi dari semangat perubahan yang harus membentuk batu-batu kemapanan…, silahkan dinikmati…

Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

Djogja, 1973
Potret Pembangunan dalam Puisi

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: