DUA HARIMAU

Waktu kecil dulu, pastilah kau suka didongengi. Ya kan? Dan dari sekian banyak cerita yang kau dengar, mestilah ada beberapa di antaranya yang mengendap di kepalamu sampai sekarang. Betul kan? Kurasa sih memang begitu, apalagi bila kisah itu membuatmu melongo, terheran heran dan mengakibatkan dirimu tak henti hentinya berpikir selama beberapa waktu sesudahnya.

Aku sendiri hingga kini mengingat satu dongeng singkat yang kudengar dari almarhum ayahku. Entahlah dari mana ia mendapatkan cerita tersebut. Menurutku, kisah itu rekaan ayah belaka, tapi sungguh membuat mataku terbelalak.

Ceritanya begini:

Di sebuah hutan, hiduplah dua ekor harimau. Yang satu terkenal ramah, baik hati, suka menolong, sabar, rajin, tidak dendam, tak suka ribut, tak pernah menakut nakuti hewan lain atau orang yang kebetulan tengah melintas dan seterusnya. Pendeknya, ia adalah gambaran raja hutan yang bijak, arif, welas asih dan disukai oleh semua satwa dan kelompok orang di sekitarnya.

Harimau yang satu lagi malah sebaliknya. Ia adalah sosok yang gampang marah, serakah, malas, tak sabaran, mau enaknya saja, kelewat berani hingga sering tanpa perhitungan, sok kuasa, kerap mengganggu dan memangsa hewan kecil atau pun manusia yang lewat di hutan dan  seterusnya. Jelasnya, profil  yang dimilikinya sama sekali tidak simpatik, menakutkan dan membuat ia dijauhi oleh siapa pun.

‘Lantas, kalau suatu ketika dua harimau itu berkelahi di dalam dirimu, bagaimana? Kau tahu siapa yang akan jadi pemenang?’ begitu Ayah dulu bertanya kepadaku.

*

‘Maksud Ayah?’ tanyaku tak mengerti.

‘Hhmm… anggap saja misalnya karena satu dan lain hal hutan tempat mereka tinggal punah atau terbakar dan satu satunya tempat yang tersisa untuk ditinggali adalah dirimu. Selama sekian waktu mereka hidup rukun di sana. Cuma, suatu saat keduanya ribut hingga berujung pada duel sengit. Menurutmu, siapa yang akan keluar sebagai pemenang?’ tanya ayah lagi.

‘Harimau yang baik hati, pasti. Bukan begitu, Yah?’ jawabku meminta dibenarkan.

‘Salah,’ balas Ayah singkat.

‘Kok salah. Katanya yang baik selalu menang melawan yang jahat?’ imbuhku.

‘Jawabanmu mungkin benar kalau duel itu terjadi di hutan,’ timpalnya pasti.

‘Oh,’ kataku linglung.

‘Jadi yang jahat yang justru jadi juaranya?’ aku kembali menyodorkan jawaban.

‘Masih salah,’ ujar Ayah lagi.

Aku diam. Tak tahu harus berkata apa.  Aku kehabisan ide.

‘Mau tahu siapa yang menang?’ tantangnya kemudian.

Aku mengangguk.

‘Oke.  Ingat ini, ya. Karena kedua harimau itu hidup dalam dirimu, maka yang menang dalam perkelahian itu adalah harimau yang selalu kau beri makan!‘ terang Ayah.

*

Dulu aku sama sekali tak paham apa makna di balik kisah itu. Tapi, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit aku  mengerti. Yang Ayahku ceritakan itu sebenarnya sebuah nasihat. Ya, nasihat akan betapa pentingnya seseorang menjaga pikiran serta prasangka baik setiap saat di dalam hidupnya.

Maksudku, kalau aku selalu menanamkan ke dalam benakku hal hal atau benih benih kebaikan dan kedamaian, maka ibarat memberi makan harimau, hanya kebaikan dan kedamaian itu jugalah yang akan keluar sebagai pemenang atau menjadi realita dalam hidupku.

Dan begitu pun sebaliknya. Kalau aku terbiasa berpikir yang jelek jelek dan membiarkan diriku  dihinggapi rasa cemas, takut, gampang marah, iri, sedih, benar sendiri dan sejenisnya, maka sudah pasti hidupku pun akan selalu dipenuhi oleh warna warni kusam macam itu. Karena apa? Yah, apalagi kalau bukan karena aku telah memberi makan sekaligus kesempatan kepada pikiran pikiran buruk itu untuk terus hidup di dalam diriku.

*

Jadi, kini semua mudah saja bagiku. Tiap kali aku merasa tak nyaman dengan diriku, aku tak pernah atau jarang mencari kambing hitam. Alih alih repot memburu penyebab eksternal, aku malah menengok ke dalam diriku dan selalu berkesimpulan bahwa ketidaknyamananku itu disebabkan karena aku tengah memberi makan harimau yang salah.

Lantas, seperti orang memindahkan saluran televisi,  segera kuputuskan untuk ganti memberi makan harimau yang satu lagi: sang pikiran dan prasangka baik. Dan memang selalu benar: tanpa butuh waktu lama, aku akan kembali nyaman dan jernih karena yakin dan percaya aku telah menjatuhkan pilihan yang tepat.

Setelah pilihan tepat kubuat, apalagi yang harus ditakutkan? Pastilah hasilnya akan tepat juga. Betul kan? Apalagi kalau aku ingat Tuhan adalah Sang Maha Tepat, yang akan secara otomatis membuatku tertarik ke arah medan magnet-Nya.

*

Istirahatlah dalam damai di sana, Yah. Aku mengasihimu selamanya. Terimakasih telah memberiku resep sederhana tapi mujarab tentang satu hal utama: keajaiban dalam hidup sungguh bisa diciptakan setiap saat dan bukan sekadar dinantikan.

Semoga ayahmu pun sama hebatnya dengan ayahku dan kisah yang diceritakannya kepadamu juga kurang lebih sama memberdayakannya seperti cerita ayahku. Boleh aku mendengarnya?

Maafkan saya, saya menyesal, saya mengasihimu, terimakasih.

Peace beyond all understanding.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: