MENGGAGAS UJIAN NASIONAL YANG LEBIH EFEKTIF

Assalamualaikum wr. wb.

Sungguh mengecewakan membaca respons Mendiknas terhadap Keputusan MA untuk meninjau ulang pelaksanaan Ujian Nasional 2010. Alasan bahwa membatalkan pelaksanaan Ujian Nasional 2010 melanggar PP adalah alasan yang dipaksakan. Alasan bahwa Komisi IX DPR telah menyetujui anggaran pelaksanaan Ujian Nasional 2010 sangat absurd. Coba bandingkan dengan begitu ngototnya Kejaksaan membawa Bibit-Chandra ke pengadilan. Apapun ditempuh agar kedua orang ini disidangkan. Peraturan bisa dimodifikasi kalau perlu. Pertanyaannya adalah, kenapa untuk Ujian Nasional 2010 tidak? Sesungguhnya, keputusan MA tersebut merupakan kado menggembirakan bagi para guru pada saat kemarin tanggal 25 Nopember merayakan Hari Guru Nasional ke-16. Paling tidak keputusan itu menunjukkan masih ada pihak yang secara bijaksana melihat bahwa pelaksanaan Ujian Nasional memiliki banyak masalah yang akhirnya mengotori tujuan awalnya.

Ujian Nasional digagas dengan semangat untuk menyejajarkan kualitas pendidikan kita agar sejajar dengan, paling tidak, negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dengan menstandarkan tingkat kelulusan, isi bahan ujian, dan prosedur pelaksanaan, diharapkan kualitas pendidikan kita dari Sabang sampai Merauke akan meningkat sampai ke taraf yang signifikan. Struktur dan fungsi Ujian Nasional ini sama dengan IPSLE, GSCE, Level O dan Level A Cambridge Examination. Bedanya, yang belakangan ini diakui secara internasional, sehingga si pengikut ujian yang lulus bisa meneruskan studi lanjutnya di negara yang mengakui kredibilitas Cambridge Examination. Karena itu, logis bila pemerintah mengambil model evaluasi akhir seperti ini karena sifatnya yang mudah dikelola secara administrasi maupun standardisasinya.

Namun masalahnya, Ujian Nasional ini sejak awal sudah menginferensikan banyak hal negatif di lapangan, yang tidak disadari dan diprediksi oleh pemerintah selaku penggagasnya. Pertama, Ujian Nasional hanya dilaksanakan pada beberapa mata pelajaran namun hasilnya menjadi penentu kelulusan siswa. Meskipun di dalam surat edaran Prosedur Operasional Standar Ujian Nasional yang dikeluarkan Badan Nasional Standar Pendidikan dikatakan bahwa yang dikatakan lulus adalah “…memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran: (a) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, (b) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, (c) kelompok mata pelajaran estetika, dan (d) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan…”, namun toh akhirnya digarisbawahi pada bagian akhirnya “…lulus UN sebagaimana diatur dalam POS ini pada bab VI…”. Ini artinya, untuk lulus si anak harus “lulus” Ujian Nasional” terlebih dahulu. Inilah yang kemudian menimbulkan berbagai efek bola salju.

Karena yang sangat menentukan kelulusan siswa pada dasarnya adalah beberapa mata pelajaran saja, maka mau tidak mau Sekolah pasti akan memusatkan usaha dan pikirannya agar semua siswanya lulus dari beberapa mata pelajaran ini saja. Maka terjadilah “pengistimewaan” di dalam struktur kurikulum. Mata pelajaran Ujian Nasional mendapat porsi lebih banyak dalam seminggu, sementara yang non Ujian Nasional sangat minim. Matematika 9 seminggu, sementara Agama 2 jam seminggu. Alasannya jelas, dibutuhkan waktu lebih untuk “menghabiskan” seluruh topik yang mungkin keluar dalam Ujian Nasional. Itu saja belum cukup. Di beberapa sekolah bahkan kelas akhir pulang lebih larut karena setelah jam sekolah mereka harus mengikuti bimbingan belajar. Sebuah sekolah menengah pertama favorit di Jawa Timur saya dengar bahkan telah merancang bimbingan belajar intensif sejak kelas satu! Luar biasa.

Pengistimewaan ini akhirnya mengurangi motivasi siswa untuk sungguh-sungguh dalam mata pelajaran non Ujian Nasional. Sebagai pengajar ilmu-ilmu sosial, saya merasakan sendiri betapa para siswa secara umum tidak terlalu serius untuk belajar karena mereka berpandangan bahwa yang meluluskan mereka adalah Matematika, Bahasa Indonesia dan Sains. Fenomena ini umum terjadi di mana-mana, di berbagai jenjang unit pendidikan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, akhirnya Sekolah tidak terlalu serius merancang ujian akhir untuk mata pelajaran non-Ujian Nasional. Ketidakseriusan ini bukan wujud tidak profesionalnya sekolah, namun adalah wujud kekhawatiran dan keprihatinan mereka. Setelah mengalami masa-masa tekanan luar biasa dalam Ujian Nasional yang hasilnya masih harus menunggu sekitar dua bulanan, maka kebanyakan sekolah merasa tidak adil bila harus “menghajar” siswanya lagi dengan serangkaian ujian yang menentukan masa depannya. Dan juga, seperti telah disitir di atas, tidak ada gunanya siswa lulus ujian akhir sekolah bila toh nantinya Ujian Nasionalnya tidak lulus hanya karena salah satu atau salah dua mata ujiannya gagal. Mengerikan bukan? Sekolah tidak lagi menjadi pranata pendidikan tapi lebih mirip lembaga perjudian.

Ujian Nasional akan lebih efektif bila memang hanya dipakai sebagai uji pemetaan kualitas pendidikan. Penunjukan beberapa mata pelajaran uji adalah variabel kontrol yang memastikan bahwa tidak ada kondisi eksternal yang mendistorsi proses uji sampling yang dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia. Penunjukan misalnya Matematika adalah logis, karena Matematika adalah mata pelajaran bersifat universal. Lain soal dengan Ilmu Pengetahuan Sosial. Ia tidak cocok dijadikan variabel kontrol karena sifatnya keilmuannya yang sangat dinamis, mudah berubah seiring perubahan masyarakat dan keunikan yang merepresentasikan keunikan wilayah dan komunitas masyarakat di mana Sekolah itu berada.

Karena Ujian Nasional hanya merupakan pemetaan, maka kembalikan kelulusan siswa kepada guru. Ujian kelulusan diadakan di sekolah masing-masing dengan prosedur operasional standar yang diatur Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP). Mata Ujian Nasional menjadi bagian dari keseluruhan ujian kelulusan sekolah. Dengan diadakan serentak, namun menjadi bagian ujian kelulusan sekolah, maka Ujian Nasional niscaya tidak menjadi “monster” seperti sekarang, karena setiap anak dengan kelemahan dan kelebihannya masing-masing masih memiliki kesempatannya masing-masing. Tidak ada kekhawatiran berlebihan namun timpang di beberapa mata pelajaran saja. Guru juga akhirnya lebih termanusiakan. Bukan hanya karena ia menjadi locus kelulusan siswa, namun karena ketimpangan “mata pelajaran Matematika lebih berat daripada IPS” tidak ada lagi. Semua mata pelajaran menentukan kelulusan siswa karena memang itulah yang dipelajari siswa selama bertahun-tahun ia sekolah. Intervensi BNSP hanya sampai kepada memastikan bahwa struktur dan proses dasar ujian sama di seluruh Indonesia, termasuk beberapa mata uji universal semisal Matematika, namun content ujian harus merepresentasikan prinsip “Teach What You Test, Test What You Teach”. Model di atas tidak akan mencederai siapa-siapa. Kepentingan Pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan tercederai karena hasil pemetaan Ujian Nasional bisa menjadi bahan analisa BNSP dan Kementerian Pendidikan Nasional untuk merancang isi kurikulum lebih baik di masa mendatang. Kepentingan dan perang vital guru juga tidak tercederai karena ia adalah yang bertanggung jawab menuntaskan pendidikan anak selama bertahun-tahun.

Namun, dengan tidak legowo-nya Mendiknas untuk melaksanakan keputusan MA ini, menunjukkan bahwa aspirasi publik ternyata tidak menjadi pertimbangan bagi Pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang menentukan masa depan generasi bangsa ini sendiri. Sebagai bagian dari komunitas guru Indonesia yang mendambakan sistem dan model pendidikan ramah siswa, penulis hanya berharap dan berdoa agar pihak-pihak ini dibukakan hatinya dan mau lebih bijak menerima perubahan yang memang tidak akan bisa dielakkan. Semoga!

Wassalam

sumber : http://menyalakanapi.blogspot.com/2010/01/menggagas-ujian-nasional-yang-lebih.html

2 Tanggapan

  1. NmyD2M kigagzjfllwg, [url=http://foxuyiabtogs.com/]foxuyiabtogs[/url], [link=http://krngjrjbikbi.com/]krngjrjbikbi[/link], http://ugygvovtvagf.com/

  2. sekarang siswa tetap harus disiapkan to?

    tentunya…, karena toh akhirnya mereka sendirilah yang harus berjuang di meja kerja pada saatnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: