Profil Pemimpin Pendidikan yang Dibutuhkan Saat ini

Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

Untuk menghadapi tantangan dan permasalahan pendidikan nasional yang amat berat saat ini, mau tidak mau pendidikan harus dipegang oleh para manajer dan pemimpin yang sanggup menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang ada, baik pada level makro maupun mikro di sekolah.

Merujuk pada pemikiran Rodney Overton (2002) tentang profil manajer dan pemimpin yang dibutuhkan saat ini, berikut ini diuraikan secara singkat tentang 20 profil manajer dan pemimpin pendidikan yang yang dibutuhkan saat ini.

1. Mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular.

Pendidikan harus dikelola secara sungguh-sungguh, oleh karena itu para manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menunjukkan semangat dan kesungguhan di dalam melaksanakan segenap tugas dan pekerjaanya. Semangat dan kesungguhan dalam bekerja ini kemudian ditularkan kepada semua orang dalam organisasi, sehingga mereka pun dapat bekerja dengan penuh semangat dan besungguh-sungguh.

2. Memiliki standar etika dan integritas yang tinggi.

Baca lebih lanjut

Acapella SMA Cepiring raih Juara II

Assalamualaikum wr. wb.

Kembali lagi SMA Cepiring menorehkan prestasi non akademis di bidang seni dengan menjadi juara II pada lomba Acapella Porseni Tingkat Pelajar SMA/SMK Kabupaten Kendal.

Dalam event ini diusung lagu dari crisye dengan judul lagu Pelangi sebagai lagu pilihan serta lagu wajib Tanah Airku, cukup menengangkan juga karena SMA Cepiring tampil pada urutan kedua, sementara peserta pada urutan pertama tidak ada, praktis tampil perdana dan menjadi patokan awal bagi juri untuk penentuan nilai berikutnya. Tampil sebagai juara pertama dari SMA Sukorejo yang tahun lalu juga menjuarai event ini serta juara ketiga dari SMA Boja.

Komposisi dari SMA Cepiring adalah sebagai berikut :

  • Lead Vocal = Sandri Cita Bela Wati dan Astri Widyani
  • Rhytm = Tety Wiryani  dan Puji Nur Hidayah
  • Bass = Achmad Khakim
  • Perkusi = Heri

Dengan latihan dan inovasi yang lebih kuat tentunya kita berharap dapat menggeser posisi SMA Sukorejo untuk menjadi yang terbaik di Kabupaten Kendal, AMin

Wassalam

Mengesankannya Soal Kimia Ujian Nasional 2008, Salut pada BSNP!!!

Cukup mengagetkan ketika melihat respon siswa setelah selesai dan keluar dari ruang Ujian Nasional hari ini dan setelah ditanyakan tentang Ujian Nasioanl Kimia yang baru saja dilaluinya, mereka berkomentar bahwa soal sebenarnya tidak terlalu sulit tapi cukup membingungkan. Model penyajian soalnya berbeda dengan soal-soal Ebtanas dan soal-soal try out yang selama ini telah coba untuk di geluti dan dipelajari.

Baca lebih lanjut

Kembalikan Nilai Kejujuran dalam UN

  • Oleh Wahyudi JS

DOMINASI negara dalam penyelenggaraan ujian negara tahun 1945-1964 berakibat peserta yang lulus amat sedikit. Pada sistem ujian sekolah penuh (1965-1982), sekolah menyiapkan peranti ujian, melaksanakan, dan menentukan kelulusan. Peserta ujian lulus 100%, tetapi mutunya memprihatinkan dan tidak terstandarkan. Periode 1983-2002 diperkenalkan sistem ebtanas. Kelulusan siswa umumnya terganjal nilai ebtanas murni (NEM) yang rendah, tetapi sekolah leluasa mengontrol nilai rapor semester V dan VI sampai di luar ambang rasional. Hampir tiap sekolah meluluskan 100%, meskipun secara hakiki banyak yang tidak layak lulus.

Pada era UN (2003-sekarang), penentuan passing grade yang tiap tahun naik merupakan stressor yang menghantui siswa dan guru. Namun semua itu tidak diimbangi masukan yang terseleksi ketat, motivasi belajar yang baik, metode dan media yang efektif, intensifikasi KBM, serta pembenahan kurikulum.

Diakui, UN menjadi incentive learning. Berbagai kiat dan program pun dilakukan seperti bimbingan belajar dan penambahan jam belajar. Namun upaya itu dikhawatirkan hanya mengejar target nilai, sedangkan proses KBM gersang dan kehilangan makna. Bahkan siswa belum tentu memahami apa yang dipelajari. Namun rerata nilai ujian yang rendah pun mengecewakan peserta ujian, menyebabkan frustasi guru, dan berefek pada penerimaan siswa baru serta akreditasi sekolah.

Pencurangan UN semakin absurd. Misalnya, sejumlah pendidik meresahkan isu bocoran soal/kunci, pengawas ujian makin permisif, oknum mengedarkan presensi nyambi memberikan jawaban UN, dan mencontek lewat SMS. Ada juga modus pemanggilan peserta sebelum ujian usai, seperti satu Candra, dua Edi, tiga Ani, empat Dedi, lima Budi, yang sebenarnya sedang memberikan jawaban. Anehnya, tak ada nama dengan huruf awal F, G, S, karena jelas tak ada jawaban soal dengan huruf tersebut.

Hasil UN bukan semata-mata kebutuhan siswa, melainkan telah jadi kebutuhan berbagai pihak. Namun kecurangan harus tetap diberantas, sebab akan berimplikasi negatif terhadap pembentukan karakter siswa.

Karena itu, nilai kejujuran harus ditumbuhkembangkan, pendekatan proyek harus dihilangkan. Ranah afektif, psikomotorik, dan pengembangan kreativitas seharusnya sudah beres pada proses KBM. Selain itu, pemerintah harus constructive remarks, melakukan inovasi sistem ujian yang ideal.

— Penulis adalah guru SMK 5 Semarang

Rumus Kelulusan UN Siswa Daerah dan Kota Beda

Jakarta, CyberNews. Pengamat dan Tokoh Pendidikan Arief Rachman mengharapkan, agar masa mendatang, rumusan kelulusan siswa sekolah dilakukan peninjauan kembali dengan mempertimbangkan kekuatan daerah masing-masing. “Jangan kita mengharap, semua daerah itu mampu dengan satu standar,” kata Arief, Selasa (22/4/2008).

Arief menandaskan bahwa kekuatan sistem pendidikan di perkotaan dan daerah, memiliki karakteristik yang berbeda. “Kalau perkotaan, saya kira yang seperti ujian nasional sekarang ini, itu diuji dengan satu target dengan apa yang harus dikuasai. Padahal, di dalam suatu pembinaan pendidikan namanya ujian itu diuji apa adanya dari anak itu sendiri,” katanya.

Arief juga berpandangan bahwa, di masa depan agar masyarakat tidak lagi mereduksi pendidikan hanya dengan upaya pendidikan secara nasional. Artinya, jika pendidikan dapat berhasil, bukan berarti penyelenggaranan pendidikan berhasil.

“Kalau gagal juga bukan berarti pembangunan pendidikan gagal. Jadi, kita harus melihat pembangunan pendidikan itu mencakup ranah yang harus diselesaikan. Pembentukan akhlak, watak, budiperkerti itu penting,” katanya.

Mengajar Berpikir

“Perkenalan” saya dengan Edward de Bono terjadi tanpa disengaja tatkala saya tengah mengaduk-aduk rak buku perpustakaan kampus buat mencari bahan seputar metodologi penelitian sosial buat keperluan tugas akhir kuliah. Di antara jajaran buku-buku yang ada terselip satu buku lusuh ukuran saku berjudul Mengajar Berpikir (Teaching Thinking). Dan seperti umumnya kebiasaan free-thinker amatiran yang gemar coba-coba mengunyah makanan asing, saya pinjam buku yang salah letak tersebut dan melupakan sejenak tugas akhir yang menanti. Berikut beberapa point penting yang bisa saya sarikan dari buku tersebut:

  • Tuhan tidak perlu berpikir. Berpikir hanya digunakan oleh manusia buat melengkapi pengetahuannya yang tidak memadai.

  • Dalam sebuah masyarakat yang kompleks (seperti masyarakat modern sekarang), kebutuhan untuk berpikir semakin besar daripada waktu yang lampau. Kita mempunyai kebebasan yang lebih besar, dan kebebasan adalah penindasan dari kesempatan karena setiap kesempatan berarti keharusan ntuk mengambil keputusan.

  • Lebih baik belajar berpikir terbuka daripada menjadikan berpikir semata-mata sebagai ekspresi ketidakpuasan emosional.

  • Memutuskan untuk mengajarkan berpikir merupakan suatu keputusan politik, karena beberapa sistem politik akan lebih senang kalau rakyat hanya menurut dan tidak perlu berpikir. Hanya itikad untuk menipu yang membuat seseorang takut kepada pandangan yang jelas.

  • Usaha mencari kesempurnaan akademis seringkali merupakan musuh bagi pendidikan praktis berpikir: eksplorasi pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan.

  • Tidaklah tepat menganggap seorang pemakai bahasa yang terampil otomatis pemikir yang terampil pula. Salah pula menganggap seseorang yang kurang baik ekspresi lisannya otomatis kurang baik pula cara berpikirnya. Bahasa dan ekspresi adalah sarana untuk menuangkan hasil pemikiran, bukan pemikiran itu sendiri. (Btw, dengan kalimat lain bisa dikatakan bahwa orang yang pinter ngomong belum tentu cerdas)

  • Tujuan berpikir adalah mempersiapkan sesuatu yang akan kita rasakan. Dengan berpikir, kita menata kembali persepsi dan pengalaman kita, sehingga kita memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai sesuatu. Pandangan yang lebih jelas inilah yang membuat perasaan kita tergetar. Tanpa berpikir, perasaan hanya merupakan tirani. Mengapa? Karena perasaan adalah sejenis tindakan. Tujuan berpikir adalah mempersiapkan diri kita untuk bertindak.

  • Idiom akademis yang diajarkan di sekolah dan disempurnakan di universitas layaknya keterampilan mengetik dua jari: keterampilan yang sangat baik untuk menghadapi situasi tertutup di mana semua informasi telah tersedia, tetapi sangat tidak efisien untuk menghadapi situasi terbuka, di mana hanya sebagian dari informasi tersedia namun keputusan tetap harus dibuat.

  • Adalah keangkuhan yang luar biasa untuk beranggapan hanya ada dua pilihan, yang terpolarisasi dengan tajam pada suatu soal, yang mengatakan bahwa bila yang satu salah maka yang lain pasti benar.

  • Masalah mendasar dari keterlibatan ego dalam pemikiran kita adalah kita secara normal menganggap logika sebagai suatu cara memproses persepsi kita, dan mengambil implikasi yang lengkap dari persepsi itu. Kita tidak dapat melihat bahwa dalam banyak situasi, sebagaimana dengan dukungan ego, struktur logika muncul paling awal dan mempunyai momentumnya sendiri, dan persepsi dibuat supaya cocok dengan struktur itu. Di tangan yang terampil, mau tidak mau struktur itu konsisten, namun persepsinya sangat tertutup dan sempit.

  • Sistem logika tradisional (yang berbasis verbal) menghadapi kesulitan besar dalam berurusan dengan besaran, karena bahasa berurusan dengan sifat-sifat dan bukan dengan ukuran. Kesalahan besaran tidak dapat dideteksi dengan memeriksa argumentasi itu sendiri karena argumen itu barangkali konsisten secara logika dan benar secara internal. Kesalahan hanya bisa diketahui bila si pemikir telah mempunyai bidang persepsi yang lebih luas untuk dapat menilai argumentasi itu.

  • Kesalahan seringkali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, tetapi lebih pada cara kita memandang pengetahuan itu.

  • Mengajarkan berpikir bukanlah mengajarkan logika, tetapi mengajarkan persepsi.

  • Seringkali, terlalu cepat sampai pada tahap pengolahan logika dapat membatasi penyelidikan kita dalam tahap pengerahan perhatian maupun eksplorasi persepsi. Jadi salah satu fungsi berpikir adalah mengarahkan perhatian melintasi bidang persepsi.

  • Pengarahan perhatian secara sadar ke bidang seluas mungkin (memperluas wawasan, melihat sesuatu dari sudut pandang lain, dan keterbukaan sikap) merupakan bagian yang sangat mendasar dalam berpikir.

SKL Ujian Sekolah 2008

Assalamualaikum wr. wb.

Hari ini Ujian nasional 2008 dimulai dan tugas berikutnya adalah ujian sekolah dan ujian praktek, dan beberapa hari yang lalu rekan dari wakasek kurikulum sudah menanyakan apakah ada SKL Ujian Sekolah yang telah di upload di Internet untuk dijadikan bahan acuan dalam penyusunan soal baik ujian sekolah maupun ujian praktek. Bagi rekan-rekan yang membutuhkan SKL silahkan download dengan melakukan klik pada link-link di bawah ini :

Baca lebih lanjut