KIAT MENGATASI KEGAGALAN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN

Myspace Icons


Peran Aktif Kepala Sekolah

Proses sertifikasi guru telah berlangsung selama dua tahun, yaitu tahun 2006 dan tahun 2007. Presentase kelulusan uji sertifikasi tahun 2007 lebih kecil dibandingkan dengan presentase kelulusan tahun 2006.
Banyak pihak beralasan, kegagalan guru dalam uji sertifikasi tahun 2006 disebabkan karena uji sertifikasi ini merupakan sesuatu yang baru, dan sosialisasi sertifikasi dianggap masih kurang merata. Alasan ini tak dapat lagi digunakan pada tahun 2007. Maka, munculah alasan lain-lain. Misalnya seperti alasan ekonomi, yakni guru dianggap terlalu sibuk mencari tambahan penghasilan, sehingga tak sempat lagi melakukan kegiatan lain yang dibutuhkan dalam penyusunan portofolio untuk proses sertifikasi.

Banyak alasan kegagalan uji sertifikasi guru yang bisa dicari, tetapi apapun alasan yang dikemukakan, tanpa adanya kemauan untuk melakukan tindakan perbaikan, tak akan ada artinya.
Ada kejadian menarik pada sertifikasi tahun 2007, yaitu pada pengisian kekurangan kuota sertifikasi guru. Pengisian kekurangan kuota ini menimbulkan kecurigaan beberapa kalangan, bahwa telah terjadi jual beli tiket sertifikasi. Kecurigaan ini muncul karena kekurangan kuota ini banyak diisi oleh kepala sekolah, dan tidak sampainya informasi ini pada guru. Alasan yang dikemukakan, mengapa hal ini terjadi, adalah sempitnya waktu untuk mengumpulkan bahan-bahan sertifikasi.

Ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari pengisian kekurangan kuota sertifikasi guru tersebut. Pertama, adanya kepala sekolah yang belum mempersiapkan guru untuk mengikuti uji sertifikasi sewaktu-waktu ada permintaan. Kedua, walaupun terjadi penyimpangan terhadap kriteria penetapan peserta uji sertifikasi, yaitu prioritas utama peserta adalah masa kerja mengajar, tetapi kelulusan peserta uji sertifikasi tambahan ini lebih terjamin.

Dua pelajaran di atas menimbulkan gagasan penulis tentang kiat mengatasi kegagalan guru dalam mengikuti uji sertifikasi. Kepala sekolah, khususnya yang telah lulus uji sertifikasi, agar memfasilitasi guru dalam mengisi dan melengkapi borang sertifikasi. Banyak hal dalam sertifikasi yang membutuhkan peran aktif kepala sekolah. Salah satu contohnya adalah penilaian tentang RPP. Jika pada setiap akhir pembelajaran, RPP dan pelaksanaannya selalu diberikan penilaian oleh kepala sekolah, maka guru tak perlu lagi kerepotan dalam mengisi borang sertifikasi yang berkaitan dengan RPP. Di samping itu, guru akan dapat memilih lima RPP terbaik, berdasarkan penilaian yang telah diberikan kepala sekolah.

Yang tak kalah pentingnya adalah kemauan kepala sekolah untuk berperan aktif membantu memprediksi nilai sertifikasi guru. Walaupun prediksi nilai kepala sekolah mungkin tak sama dengan nilai dari penilai sertifikasi sebenarnya, ini cukup membantu mengurangi tingkat kegagalan uji sertifikasi guru yang bersangkutan. Bahkan jika memungkinkan, secara internal kepala sekolah dapat membentuk tim penilai sertifikasi guru. Tugas tim internal ini adalah menilai sertifikasi guru di luar penilaian yang bersifat rahasia. Dengan adanya tim ini di sekolah, kepala sekolah akan mengetahui dengan tepat guru-guru yang telah siap mengikuti sertifikasi. Bahkan lebih jauh, kepala sekolah dapat menilai kinerja masing-masing guru di sekolahnya.

Kompromi antar Guru agar diperlakukan adil

Walaupun prioritas utama kriteria peserta uji sertifikasi guru adalah masa kerja atau pengalaman mengajar, kita tak boleh melupakan makna sertifikasi itu sendiri, yaitu guru yang sudah lulus uji sertifikasi berarti guru itu telah diakui kapasitasnya sebagai guru.

Tentu tidak semua guru yang masa kerjanya lebih lama mempunyai kapasitas yang memadai sebagai guru, atau sebaliknya. Itulah sebabnya pemerintah menetapkan kriteria kelulusan pada uji sertifikasi guru. Tidak adil kiranya, jika penetapan peserta semata-mata diutamakan pada lama masa kerja tanpa melihat prestasi kerja, sebagaimana tidak adilnya jika penetapan peserta semata-mata diutamakan pada prestasi kerja tanpa melihat masa kerja.

Ada jalan kompromi yang dapat ditempuh agar semua guru merasa diperlakukan adil tanpa mengesampingkan tujuan sertifikasi dan kriteria penetapan peserta sertifikasi. Jalan kompromi tersebut adalah kepala sekolah memberikan kesempatan pada semua guru untuk mengisi borang sertifikasi dan kemudian menilai isian borang tersebut. Dari penilaian tersebut, kepala sekolah dapat menetapkan guru-guru yang diperkirakan akan lulus uji sertifikasi sekaligus menetapkan urutan peserta uji sertifikasi dari sekolahnya dengan memprioritaskan guru yang mempunyai masa kerja lebih lama.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan agar uji sertifikasi berjalan sukses, dalam arti tingkat kelulusannya tinggi, maka dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
Kepala sekolah membuat tim internal penilai borang uji sertifikasi guru
Kepala sekolah meminta semua guru untuk mengisi borang uji sertifikasi guru
Tim penilai uji sertifikasi sekolah memberikan penilaian borang sertifikasi yang telah disusun guru
Tim penilai uji sertifikasi sekolah bersama-sama kepala sekolah menetapkan guru-guru yang berpeluang lulus uji sertifikasi

Kepala sekolah menetapkan urutan guru yang akan diikutkan uji sertifikasi berdasarkan masa kerja guru yang berpeluang lulus uji sertifikasi.
Jika kelima hal di atas dilakukan, maka kita optimistis tingkat kelulusan peserta uji sertifikasi akan meningkat, bahkan tidak menutup kemungkinan semua peserta akan lulus uji sertifikasi guru, sehingga tidak lagi timbul anggapan bahwa guru di perkotaan lebih buruk dari guru daerah.

sumber : http://www.klubguru.com/

About these ads

5 Tanggapan

  1. Wah kalo masalah sertifikasi emang pelik. coba aja buktinya sekarang. boro2 yang belum disertifikasi, yang sudah aja bingung karena tunjangan yang dijanjikan belum turun2. he.. maaf kelapasan. maksud saya, kita memang membutuhkan figur Guru yang bener2 profesional, bukannya yang dipaksakan jadi profesional padahal gak profesional. contohnya, guru yang profesional yaitu guru yang pernah atau sering menulis karya ilmiah mungkin, atau mengikuti seminar2. tetapi pada kenyataannya, jika ada seminar guru2 berbondong2 ikut tapi hanya sebagai peserta. itu masih mending, dengan dalih sertifikatnya bisa digunakan untuk uji sertifikasi, para guru malah enggan mengambil pelajaran dari seminar itu, e… malah rame2 cari sertifikat. mungkin ini bisa menggugah hati para guru yang budiman ya…
    maaf kalau ada salah2 kata. Syam
    Tolong ditanggapi sama yang berkepentingan ya…

  2. saya yakin semua guru berkepntingan karena itu mengenai profesinya…
    maksud baik tidak selalu tertangkap dengan baik, apalagi dalam tataran pelaksanaan, demikian juga dengan peningkatan kualifikasi guru melalui sertifikasi ini, alangkah naifnya jika uji sertifikasi ini malah menjadikan guru menjadi tidak peduli kepada muridnya yang jelas-jelas adalah target utama pekerjaannya, penataran, seminar, peneltian dan administrasi jauh lebih utama dibanding dengan hakekat guru sebearnya yaitu “mendidik”
    Amin…, kita semua berharap semoga yang terbaiklah yang akan kita dapatkan…
    bravo guru Indonesia

  3. saya jadi bingung dengan produk yang menghasilkan guru, waktu mahasiswa calon guru menyelesaikan studinya, sudah diberikan predikat akta IV kelau gak salah semacam keahlian untuk mengajar, sekarang sudah mengajar harus lulus sertifikasi tanda lulus profesional, apa yang namanya ahli itu tidak profesional? apa produk guru gak malu, produknya masih diragukan dengan diuji lagi dengan fortofolio atau diklat. yang kedua kalau hanya mau menaikkan kesejahteraan guru, gak usah susah-susah pakai masa kerja saja kan cukup, umpama pengalaman kerja 5 tahun dapat tambahan Rp.500 rb . biaya untuk sertifikasi itu berapa habisnya, yang dikeluarkan pemerintah dan juga yang dikeluarkan peserta sendiri.

  4. niat baik seharusnya dilaksanakan dengan baik, jika hanya rencana tapi pelaksanaannya masih “main-main” itu artinya munafik.

  5. memang perlu kita belajar untuk membuat ptk, karena hal itu sangat dibutuhkan oleh seorang pendidik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: